MAAF
Perdana Menteri Belanda meminta maaf atas kekerasan ekstrem selama masa kolonialisme. Padahal kolonialisme adalah ekstrem itu sendiri. Saya tak ingat persis. Tapi kini bisa saya duga, siang itu satu hari di bulan Febriuari 1948. Umur saya tujuh tahun. Sejak semalam sebelumnya saya dengar orang dewasa berbicara tentang “gencatan senjata”; kini saya simpulkan mereka berbicara tentang satu kesepakatan “Perjanjian Renville” yang mencoba mendamaikan konflik bersenjata antara Kerajaan Belanda dan Republik Indonesia. Dunia tahu, perdamaian itu akhirnya tak bersungguh-sungguh. Tapi hari itu suasana memang tenang. Tadi malam tak terjadi tembak menembak lagi. Ada selintas rasa lega, mungkin riang, tapi juga ganjil. Tentara Belanda masih mondar mandir di jalan mengendarai jip terbuka, dengan bedil dipangku, tapi penduduk kota kecil kami memasang bendera merah putih di pintu-pintu. Orang bahkan datang berhimpun di sebuah lapang...