CINTA - AL HALLAJ PADA RABBUL IZATI
Ini aku datang duhai Rahasiaku, Curahan Hatiku!,
Ini aku datang, duhai Tujuan dan Arah Hidupku!,
Aku memanggilMu..., ah tidak!, tapi Engkau memanggil pada diriMu sendiri!,
Lalu bagaimana aku akan berseru, “Hanya Engkaulah!”, sedangkan Engkau berbisik padaku, “inilah Aku”.
Duhai Engkau, inti dari keberadaanku, duhai Engkau, serpihan-serpihan hasratku,
Duhai Engkau, sumber kekuatanku, Engkaulah keutamaanku, yang senantiasa tersembunyi dalam gumamanku!,
Duhai totalitas dari seluruh totalitasku, Engkaulah pendengaran dan penglihatanku,
Duhai totalitas, persatuan dan serpihanku,
Duhai totalitas dari seluruh totalitasku, tapi totalitas, adalah sebuah misteri,
Dan inilah totalitas dari totalitasMu, aku kabur dengan apa yang hendak ku-ungkapkan!,
Duhai Engkau, tempatku bergantung, diriku tenggelam dalam ektase,
Dan Engkau datang menjadi penebus atas duka nestapaku!,
Aku menangisi hukumanku yang tidak ditampung oleh tanah kelahiranku melalui kepatuhan,
Dan musuh-musuhku mengantarkan rintihanku,
Duhai Kekasih, mendekatlah padaku, menepis kekhawatiranku,
Yang menggigil dalam hasrat yang menghujam dalam lubuk hati,
Duhai Kekasih, apa yang harus kulakukan, saat penyakitku menjemikan dokter-dokterku,
Mengajak mereka berkata, “sembuhkanlah dirimu melalui Dia”,
Tapi aku berkata, bagaimana menyembuhkan penyakit dengan penyakit?,
Karena cintaku padaMu tlah mengikis dan membakar,
Bagaimana aku ‘kan mengadu pada Raja DiRajaku?,
Sepintas aku merasakannya, dan jiwaku mengenalnya,
Tapi tak satupun yang mampu mengungkapkannya hanya dalam sekejap mata,
Ah, kemalangan jiwaku karena diriku sendiri...!,
Sayang!, akulah justru yang menjadi penyebab kemalanganku!,
Layaknya tubuh yang tenggelam, dan hanya jari-jarinya yang terapung, meminta pertolongan ditengah samudera lepas,
Tak seorangpun yang tahu apa yang menimpaku, kecuali Dia yang melebur dalam jiwaku,
Dia yang berkata, betapa malang nasib yang menimpaku, dan atas kehendakNya aku mati atau hidup kembali!,
Duhai Engkau, muara do’a dan harapanku, duhai Tuan Rumahku,
Duhai Engkau semangat hidupku, duhai Rahasia keyakinanku, dan aku menjadi bagian didalamnya,
Katakan padaku, “Aku telah menebusmu”, duhai pendengaranku!,
Duhai Engkau penglihatanku!, sampai habis masa pengasinganku..., o, betapa lama!.
Meskipun Kau bersembunyi dari dua mataku, jiwaku terjaga dalam nafasMu dari kejauhan. Cinta-sufi-waktu-syeikh-abu-ali
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
Komentar
Posting Komentar
SKP : MENANTI KOMENTAR ANDA DALAM RANGKA MEMBERIKAN MASUKAN SARAN DAN PENDAPAT.....