KALAM TERDALAM (7)
“Katakan
kepada para sahabatmu, siapa di antara mereka yang ingin sampai
kepada-Ku, maka ia harus keluar dari segala sesuatu selain Aku”
“Keluarlah
dari batas dunia, maka engkau akan sampai ke akhirat, dan keluarlah
dari batas khirat, maka engkau akan sampai kepada-Ku.”
“Keluarlah engkau dari raga dan jiwamu, lalu keluarlah dari hati dan ruhmu, lalu keluarlah dari hukum dan pe
rintah, maka engkau akan sampai kepada-Ku.” .......................................................................
“Wahai Tuhanku, shalat seperti apa yang paling dekat dengan-Mu ?.”
“Shalat yang di dalamnya tiada apapun kecuali Aku, dan orang yang melakukannya “lenyap” dari shalatnya dan tenggelam karenanya.”
(Maksudnya
: niat dan perhatian si pelaku shalat hanya tertuju kepada Allah swt,
fokusnya bukan lagi penampilan fisik maupun gerakan-gerakan, melainkan
kepada makna batiniah shalat itu)
“Wahai Tuhanku, puasa seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.”
“Puasa yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, dan orang yang melakukannya “lenyap” darinya”.
“Wahai Tuhanku, amal apa yang paling utama di sisi-Mu ?.”
“Amal
yang di dalamnya tiada apa pun selain Aku, baik itu (harapan) surga
ataupun (ketakutan) neraka, dan pelakunya “lenyap” darinya.”
“Bila engkau ingin memandang-Ku di setiap tempat, maka engkau harus “lenyap” (kosongkan hati dari selain Aku)”.
“Wahai Tuhanku, tangisan seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.”
“Tangisan orang-orang yang tertawa.”
“Wahai Tuhanku, tertawa seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?”
“Tertawanya orang-orang yang menangis karena bertobat.”
“Wahai Tuhanku, tobat seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.”
“Tobatnya orang-orang yang suci.”
“Wahai Tuhanku, kesucian seperti apa yang paling utama di sisi-Mu ?.”
“Kesucian orang-orang yang bertobat.”
“Wahai Tuhanku, apa ilmunya ilmu itu ?.”
“Ilmunya ilmu adalah ketidaktahuan akan ilmu.”
Pencari
ilmu di mata-Ku tidak mempunyai jalan kecuali setelah ia mengakui
kebodohannya, karena jika ia tidak melepaskan ilmu yang ada padanya, ia
akan menjadi “setan”
(Maksudnya
: Ilmu yang sesungguhnya adalah yang ada di sisi Allah swt, sementara
ilmu yang kita miliki hanyalah semu dan palsu… Selama manusia tidak
melepas kepalsuan itu, ia tidak akan menemukan ilmu sejati… Ilmu sejati
tidak akan berlawanan dengan perbuatan… “Setan” adalah contoh pemilik
ilmu yang perbuatannya berlawanan dengan ilmu yang dimilikinya).
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
Komentar
Posting Komentar
SKP : MENANTI KOMENTAR ANDA DALAM RANGKA MEMBERIKAN MASUKAN SARAN DAN PENDAPAT.....